Selasa, 20 September 2016

Kampung Adat Tatubhada

Tidak jauh dari Mbay, Nagekeo tepatnya di Desa Rendu, Aesesa Selatan terdapat beberapa kampung adat di pinggiran ngarai Sungai Aesesa. Salah satu yang paling besar dan mudah di jangkau adalah Kampung Adat Tatubhada. Kampung ini sangat dekat dengan jalan, tepatnya di pinggiran jalan tembusan Mbay - Boawae. Jalan ke tempat ini relatif mudah apa lagi lokasinya yang di pinggir jalan. Jika melihat gereja yang cukup besar kampung ini ada di belakangnya.

Kampung ini memang tidak begitu terkenal, jauh jika dibandingkan dengan Kampung Adat Bena apalagi dengan Kampung Adat Waerebo. Kampung ini juga tidak terlalu photogenic, sangat sulit mengambil sudut foto yang bagus. Mungkin itu juga yang membuatnya jarang diminati para pelancong.
Kesan pertama ketika memasuki tempat ini adalah sepi, waktu itu memang masih siang saat penduduknya kebanyakan masih di kebun. Penduduknya juga kurang Welcome, terlihat masih malu dan tidak terbiasa berinteraksi dengan orang asing. Dan yang paling bikin malas adalah saat bertanya dengan nada yang tinggi saat mau mengambil foto.
Rumah yang di bangun bentuknya sangat beragam sama sekali tidak seragam. Letak dasar rumah yang lebih rendah dari lapangan membuatnya tidak terlalu indah apa lagi penataanya yang terkesan kurang rapi.
Saran kalau ke sini sebaiknya pagi-pagi sekalian biar tidak terlalu panas.

Senin, 05 September 2016

Waerebo desa adat photogenic

Waerebo, sebuah desa adat di pedalaman Manggarai. Desa adat ini begitu terkenal bagi pelancong. Tidak jarang pelancong dari mancanegara rela bersusah payah menuju desa adat ini.

Waerebo tidak jauh dari Ruteng Ibu kota Kab. Manggarai. Dengan kendaraan 1 jam sudah bisa mencapai Desa Denge, desa terakhir sebelum tracking ke Waerebo. Walaupun dengan rute khas Flores jalan berkelok-kelok dan naik turun.

Waktu itu stamina terkuras habis karena nekat menggunakan oto kayu dengan berdesak-desakan. Badan pun sakit semua karena medan yang tidak mudah. Walaupun  demikian bisa dengan selamat sampai Denge.

Selanjutnya perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki. Rute terberat yaitu jalanan aspal menanjak dengan suhu lebih dari 40 derajat Celsius. Kali ini stamina benar-bebar diperas habis-habisan.

Jalan selanjutnya relatif lebih mudah. Terus menanjak namun tidaklah terlalu sulit. Suasana hutan yang begitu asri menemani perjalanan menuju desa waerebo.

Bersambung. . .

iklan

loading...

Memasak Beras Menjadi Nasi atau Lontong di Alam Bebas

foto: nationalgeographic.co.id Sumber energi selalu kita butuhkan, apalagi saat kita berpetualang di alam bebas. Kebanyakan dari kita se...

Popular Posts