Kamis, 19 Oktober 2017

Kabut di Ranu Kumbolo


Sabtu jam 5 pagi aku mulai sibuk menyiapkan perjalanan yang tidak terlalu jauh yaitu ke kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru tepatnya di Ranu Kumbolo. Pagi itu cuaca cukup bagus tidak ada tanda-tanda akan hujan dan sepertinya menjadi hari yang baik untuk melakukan aktivitas luar ruangan. Perjalanan dimulai dari Asrama ke daerah Sawojajar.
Di sawo jajar siswa-siswa itu sudah berkumpul namun masih ada beberapa yang belum sampai. Canda tawa mereka dalam menyiapkan berbagai perlengkapan terdengar begitu renyah. Canda tawa mereka ini juga yang selalu menemani sepanjang perjalanan. Masih ter ingat candaan salah satu dari mereka yang enyinggung kalau tas temanya tidak muat karena membawa kosmetik.
Selesai mengatur barrang bawaan kami langsung berangkat menuju Ranu Pane. Yang paling lucu adalah selama perjalana mereka berkali-kali berhenti dengan alasan yang tidak jelas. Sampai akhirnya benar-benar berhenti karena beberapa motor tidak kuat nanjak. Dan terpaksa beberapa motor bolak-balik membantu membawa barang atau orang.
Di Ranu Pane kami langsung menuju ke tempat briefing. Briefing sebelum mulai pendakian adalah kewajiban jadi harus sabar menunggu giliran. Saat menunggu giliran siswa ini merasa ada beberapa berkas yang belum ada dan mereka masih berusaha untuk melengkapinga.
Di bulan ini mulai diberlakukan sistem booking online untuk pendakian ke Semeru. Sistem ini masih cukup ribet menurutku karena ada beberapa prosedur yang menurutku kurang jelas sehingga terpaksa bolak-balik untuk melengkapi administrasi.
Setelah menyelesaikan briefing dan segala persyaratan administrasi kami memulai pendakian. Tidak ada tantangan yang berarti selama pendakian. Jalan yang begitu jelas dan tanjakan yang sama sekali tidak ekstrem membuat perjalanan ini terasa sangat membosankan. Bahkan keramaian yang kalau dipikir lebih rama daripada jalan depan rumah orang-orang. Dan hanya beberapa rombongan saja yang cukup akrab mengajak bercanda.
Di Pos 3 hujan mulai turun dan perjalanan terasa sedikit lebih sulit karena jalan menjadi licin. Sampai di Pos 4 kami berhenti dan disini mulai terlihat Ranu Kumbolo walau sebagian besar masih tertutup kabut. Lama-kelamaan kabut menghilang dan hujan pun reda. Sempat terpikir untuk membuat mie instan untuk menghangatkan badan namun karena sudah cukup cerah akhirnya lanjut ke camping ground. Siswa-siswa memilih jalur di tepian danau padahal dari pengamatanku air danau cukup tinggi dan orang-orang memilih jalur atas. Aku hanya bilang kalau jalur atas sepertinya lebih mudah tetapi mereka lebih berminat lewat bawah. Akhirnya karena merasa kesulitan mereka memilih jalur atas.
Suasana berkabut kembali menyelimuti pinggiran Ranu Kumbolo. Sayangnya suasana disana begitu ramai lebih mirip seperti pasar malam. Setelah menemukan tempat yang dirasa cukup layak untuk mendirikan tenda kami mendirikan tenda dan membereskan semua perlengkapan-perlengkapan yang kami gunakan.
Setelah langit cukup gelap gelap aku bergegas menuju tanjakan cinta dengan maksud mengambil foto suasana Ranu Kumbolo saat malam hari. Kabut tidak setebal saat sore hari dan cukup layak untuk mengambil foto suasan camping ground saat malam hari. Ku cari beberapa lokasi yang cukup asik untuk mengambil gambar. Langit yang berawan dan bulan yang cukup terang membuat langit sebagai background tidak begitu indah. Dan kalau dipikir piker kalau disitu ada biang lala sudah benar-benar seperti pasar malam, apalagi kalau ditambah penjual martabak sama gula kapas.

Suara hewan-hewan mulai terdengar tidak terasa sudah pagi. Aku begitu penasaran dengan sunrise di Ranu Kumbolo namun rasa penasaran itu harus ditahan karena kabut begitu tebal. Aku mulai berjalan menaiki tanjakan yang begitu fenomenal itu bukan karena pingin jodoh tetapi dari atas kelihatan kalau di situ begitu terang karena terkena pancaran cahaya matahari. Mungkin dari atas itu bisa melihat suasana ranu kumbolo yang ditutup kabut namun bagian atas cerah. Tebakanku tepat diatas memang cerah dan di bawah Ranu Kombolo seakan-akan berada dibawah awan. Aku hanya duduk sambil memegang kamera menikmati suasana pagi dan hangatnya mentari.

Tak terasa sudah satu jam lebih berada di situ dan sepertinya haru menengok ke Oro-oro Ombo yang ternyata saat itu kering dan berwarna hitam. Akhirnya aku urung untuk turun ke sana dan meilih kembali ke Ranu Kombolo. Ternyata di Ranu Kombolo kabut itu sudah menghilang dan suasana berkabut menjadi begitu cerah. Sayang sekai karena dengan kondisi seperti itu pasti sulit untuk mengabadikan gambar.

Menurutku Ranu Kumbolo adalah sebuah danau biasa yang tidak begitu menarik. Mungkin orang-orang tertarik ke situ karena sebuah film yang begitu popular beberapa tahun lalu. Suasana disitu juga tidak terlalu unik camp ground dengan tepian danau biasa, jumlah hewan-hewan liar juga tidak teralu banyak. Bagi yang menyukai tantangan sepertinya lebih cocok kalau ke sana sambil lari atau paling tidak kebut-kebutan sampai ke kalimati dan menuju puncaknya. Dan kalau orang yang mencari ketenangan tempat ini sama sekali tidak direkomendasikan. Lebih baik cari gunung yang lain, seperti Gunung Argopuro yang menawarkan keindahan danau yang tidak kalah dari Ranu Kombolo bahkan di sana jauh lebih tenang dan alami.


Selasa, 10 Januari 2017

Tinju Adat Sagi di Soa


Tinju adat atau sagi adalah salah satu warisan kebudayaan di tanah flores. Tidak semua adat di flores mengenal sagi hanya beberapa wilayah yang mengenal sagi diantaranya adalah di Kabupaten Ngada dan Kabupaten Nagekeo. Di Kabupaten Ngada hanya ada beberapa tempat dengan tradisi Sagi, sebagian besar di Kecamatan Soa namun juga ada satu perkampungan di Riung yang mempunyai tradisi tinju adat yakni di Bekek.
Sagi di setiap tempat mempunyai beberapa perbedaan. Perbedaan yang paling mencolok adalah cara memukul dan alat pukul yang digunakan. Sedangkan aturan lainnya tidak terlalu berbeda jauh. Secara umum permainan ini dibagi menjadi dua kubu barat dan timur setiap petinju (ata sagi) merupakan perwakilan dari salah satu kubu dan harus didampingi oleh sike.
24 Oktober 2015, waktu pertama kali menonton tinju adat di Kabupaten Nagekeo, tidak jauh dari SMK Negeri Riung, tepatnya di Desa Nggolonio, Kecamatan Aesesa. Lokasinya berada di sebuah lapangan yang cukup luas dengan tribun berupa susunan batu namun jangan berpikir bakal semegah coliseum di Roma. Walapun punya akses khusus (salah satu panitia adalah Bapak Yere yang kebetulan juga guru di SMK Negeri Riung) namun karena lokasi terlalu luas menyulitkan untuk menonton sehingga tidak terlalu seru. Sambil ngobrol ada yang bilang kalau tinju di Soa jauh lebih menarik bahkan sampai berdarah-darah. Inilah pertama kali tertarik untuk melihat tinju di soa.
2 Juni 2016, diundang oleh Hasan (guru SM-3T) untuk datang ke acara tinju adat di Desa Masu, Soa. Kebetulan waktu itu juga ada monitoring dari UNY jadi sekalian dari Riung naik bus Gemini turun di Masu. Dari pertigaan berjalan kaki menuju tempat Hasan dan disepanjang jalan mulai terlihat hiruk pikuk warga berlalu-lalang kebanyakan membawa jerigen berisi minuman moke. Sambil menunggu Sagi dimulai istirahat dulu di tempat Hasan.
Setelah agak sore menuju ke lapangan tempat sagi berlangsung. Suasana begitu ramai namun sedikit berbeda dengan lapangan di Desa Nggolonio, lapangan di Desa Masu tidak terlalu luas sehingga benar-benar penuh sesak oleh penonton. Saat sampai lokasi begitu sulit untuk mencari posisi menonton apalagi untuk mengabadikan pertarungan. Dengan menyusup-nyusup akhirnya memperoleh tempat yang cukup longgar untuk menonton.
Permanan begitu seru, apalagi setiap kali ada yang meukul penonton bersorak histeris dan kadang juga ada pemain yang berdarah. Semakin sore pertandingan semakin seru karena yang bertanding adalah pemain yang lebih senior. Sayang pertandingan terpaksa haru dihentikan karena salah satu pemain terlepas dari sike hingga terjatuh. Dalam tradisi mereka setiap ada kejadian tersebut pertandingan harus diakhiri dan malamnya harus diadakan upacara.

Pertandingan Sagi di Soa memang lebih menarik daripada di Desa Nggolonio selain adu fisik jauh lebih keras juga antusias warga yang lebih besar.

Rabu, 04 Januari 2017

Rawuk dan Sunset yang mempesona


Rawuk adalah sebuah tempat yang sangat terpencil di Kabupaten Ngada, Walaupun tidak se sulit Desa Malafai akses menuju tempat ini tidaklah gampang. Jalur akses dari Riung ditempuh dengan dua cara yaitu dengan jalan kaki selama sekitar satu jam dan menggunakan kendaraan dengan waktu yang sama 1  jam. Waktu tempuh ini desebabkan karena harus memutar lewat jalan Riung-Bajawa. Secara Administrasi Rawuk berada di Desa Taen Terong 1, Kecamatan Riung, Kabupaten Ngada, NTT dengan penduduk sekitar 50 KK.
Rawuk merupakan salah satu perkampungan yang unik. Di perkampungan ini mayoritas adalah muslim padahal letaknya jauh di pegunungan. Inilah yang membuatnya begitu unik karena biasanya perkampungan muslim berada di pesisir dan rawuk berada jauh dari laut, walaupun begitu dari tempat ini kita juga bisa melihat indahnya Taman Wisata Alam Laut 17 Pulau Riung. Singkat cerita kampung ini adalah bagian dari Kerajaan Islam Riung. Hanya informasi itu yang diperoleh karena keterbatasan waktu dan akses yang sulit membuatku kesulitan menggali informasi lebih lanjut. Sedikit kecewa memang.
Di tempat ini ada 2 masjid salah satunya cukup megah untuk ukuran daerah yang sedikit terisolir. Waktu bulan Ramadhan 1437H kemarin sempat  berkunjung ke tempat ini mengikuti safari Ramadhan dan semapt sholat jamaah di tempat itu. Sambutan warga begitu ramah bahkan sempat memberikan suguhan yang cukup nikmat.
Pada kesempatan yang lain entah kenapa Bus Gemini tiba tiba belok kiri melewati jalanan rabat beton menuju ke arah Rawuk. Dalam hati “gila nih Om Halim (sopir bus) berani masuk pake kendaraan segede ini padahal kalau pakai motor aja mikir dulu” memang sih Om Halim itu sopir yang luar biasa mungkin kalau ikut Reli Dakar bisa menang. Setelah beberapa saat cahaya merah keemasan menyelip diantara pepohonan. Hingga kemudian benar-benar terlihat matahari yang bulat kemerahan langsung buru-buru ambil kamera dalam tas namun tidak sempat terfoto, kamera it uterus kupegang menanti kesempatan emas namun tidak pernah mendapatkan kesempatan. Hanya beberapa silhouette pepohonan bahkan di dekat MIS Rawuk pun tidak terambil gambarnya. Jalanan yang begitu sulit membuat bus bergoncang-gonjang terus.

Memang ada cerita kalau sunset di tempat itu begitu indah dengan warna merah yang unik bahkan kadang matahari berubah menjadi bulatan merah yang begitu indah. Mungkin hal ini disebabkan oleh kabut tipis dari padang rumput di Riung Barat yang memfilter cahaya matahari menjadi berwarna merah menyala. Walapun tidak bisa mengabadikannya sudah puas bisa melihatnya dengan mata sendiri. Walapun begitu juga sempat mengabadikan sunset tidak jauh dari Rawuk yang begitu indah.

Kamis, 29 Desember 2016

Lampatabi, Luasnya padang rumput di Riung Barat.


Nusa Tenggara Timur kalau mendengar nama provinsi ini pasti salah satu yang terlintas dipikiran kalian adalah sebuah tempat yang tandus namun tahukah kalian kalau ada sebuah padang rumput nan hijau dan luas? Kalau kalian sering buka intagram pasti sering melihat padang rumput di Sumba yang memang cukup terkenal yakni bukit wairinding. Namun ada sebuah padang rumput yang jauh lebih luas dan begitu hijau di pulau yang lain yakni di Pulau Flores.
Tempat ini terletak di kecamatan riung barat yang berjarak sekitar 2,5 jam perjalanan dari kota bajawa. Lokasinya jauh dari jalan Bajawa-Riung masih masuk lagi sekitar satu jam dari daerah wangka ke arah maronggela. Ada dua jalur untuk menuju tempat ini yaitu dari Bajawa dan dari Riung. Kalau dari Ende bisa langsung, ada bus damri jurusan Ende-Riung-Maronggela yang tidak setiap hari berangkat. Jadi paling mudah lewat Bajawa. Kalau dari bajawa bisa dengan oto bus, oto travel atau sewa motor lebih banyak pilihannya daripada kalau dari Riung.
Waktu itu akhir Desember tahun 2015 setelah pulang dari Labuan bajo menyempatkan diri untuk mampir ke padang rumput yang katanya sudah mulai hijau setelah beberapa bulan lalu terbakar. Kemarau panjang tahun 2015 berdampak parah disekitar Riung dan Riung Barat hampir semua padang rumput terbakar. Namun hujan di bulan November memberikan harapan dan rumput-rumput mulai tumbuh.
Jalan dari Wangka ke Maronggela sangat sepi hanya ada beberapa orang yang lewat dan menyapa. Tunas-tunas baru yang baru tumbuh memberikan kesejukan yang unik. Anak kerbau yang masih berbulu panjang berlari-lari tidak jauh dari induknya, suara khas babi pun juga terdengar. Awalnya sekitar jalan berupa kebun dan hutan namun setelah melewati Kuwuk vegetasi berubah pepohonan mulai jarang dan hamparan semak belukar mulai terlihat. Oh iya di Kuwuk ada sebuah bukit yang di puncaknya terdapat Salib yang cukup besar, orang sering menyebutnya dengan bukit salib.
2 kilometer dari kuwuk suasana terasa berbeda, seakan kau dibawa ke pulau lain. Suasana daerah ini sama sekali tidak mencerminkan pulau flores, sepanjang mata memandang hanyalah rerumputan. Sapi-sapi berwarna cokelat dan kerbau begitu asik merumput, ada pula kuda yang berlarian. Masihkah aku di tanah Flores? Pertanyaan itu sempat terlintas di kepala. Kemudian ada pengendara motor yang lewat sambil menyapa dengan plat EB membuatku yakin ini masih di Flores.
Sampai di pertigaan ke arah Maronggela dan ke arah Munting ku ambil jalan jelek yang ke arah munting dengan maksud mencari bukit yang agak tinggi untuk melihat pemandangan yang lebih luas. Ada bukit yang tidak terlalu tinggi dan tak jauh dari pertigaan, di dekat rumah bapak Anton. Walaupun tidak begitu tinggi pemandangan dari bukit ini begitu mempesona, hamparan padang rumput seluas ribuan hektar begitu enak dipandang. Waktu itu sepertinya saat terbaik untuk menikmati luasnya padang rumput yang begitu hijau. Rumput sudah sangat hijau namun belum terlalu tinggi sehingga masih mudah untuk menjelajah mencari sudut foto terbaik.
Semoga lain kali bisa kesini di saat yang tepat, sekedar memandangi rumput atau menunggu matahari terbit.

Selasa, 20 September 2016

Kampung Adat Tatubhada

Tidak jauh dari Mbay, Nagekeo tepatnya di Desa Rendu, Aesesa Selatan terdapat beberapa kampung adat di pinggiran ngarai Sungai Aesesa. Salah satu yang paling besar dan mudah di jangkau adalah Kampung Adat Tatubhada. Kampung ini sangat dekat dengan jalan, tepatnya di pinggiran jalan tembusan Mbay - Boawae. Jalan ke tempat ini relatif mudah apa lagi lokasinya yang di pinggir jalan. Jika melihat gereja yang cukup besar kampung ini ada di belakangnya.

Kampung ini memang tidak begitu terkenal, jauh jika dibandingkan dengan Kampung Adat Bena apalagi dengan Kampung Adat Waerebo. Kampung ini juga tidak terlalu photogenic, sangat sulit mengambil sudut foto yang bagus. Mungkin itu juga yang membuatnya jarang diminati para pelancong.
Kesan pertama ketika memasuki tempat ini adalah sepi, waktu itu memang masih siang saat penduduknya kebanyakan masih di kebun. Penduduknya juga kurang Welcome, terlihat masih malu dan tidak terbiasa berinteraksi dengan orang asing. Dan yang paling bikin malas adalah saat bertanya dengan nada yang tinggi saat mau mengambil foto.
Rumah yang di bangun bentuknya sangat beragam sama sekali tidak seragam. Letak dasar rumah yang lebih rendah dari lapangan membuatnya tidak terlalu indah apa lagi penataanya yang terkesan kurang rapi.
Saran kalau ke sini sebaiknya pagi-pagi sekalian biar tidak terlalu panas.

Senin, 05 September 2016

Waerebo desa adat photogenic

Waerebo, sebuah desa adat di pedalaman Manggarai. Desa adat ini begitu terkenal bagi pelancong. Tidak jarang pelancong dari mancanegara rela bersusah payah menuju desa adat ini.

Waerebo tidak jauh dari Ruteng Ibu kota Kab. Manggarai. Dengan kendaraan 1 jam sudah bisa mencapai Desa Denge, desa terakhir sebelum tracking ke Waerebo. Walaupun dengan rute khas Flores jalan berkelok-kelok dan naik turun.

Waktu itu stamina terkuras habis karena nekat menggunakan oto kayu dengan berdesak-desakan. Badan pun sakit semua karena medan yang tidak mudah. Walaupun  demikian bisa dengan selamat sampai Denge.

Selanjutnya perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki. Rute terberat yaitu jalanan aspal menanjak dengan suhu lebih dari 40 derajat Celsius. Kali ini stamina benar-bebar diperas habis-habisan.

Jalan selanjutnya relatif lebih mudah. Terus menanjak namun tidaklah terlalu sulit. Suasana hutan yang begitu asri menemani perjalanan menuju desa waerebo.

Bersambung. . .

Jumat, 22 Juli 2016

Di Bawah Garis 11 Derajad Lintang Selatan

Monumen Jenderal Sudirman

Berawal dari ajak seorang teman untuk berkunjung ke daerah paling selatan di Indonesia. Setelah hampir seminggu meninggalkan Riung untuk berkunjung ke Ende langsung lanjut ke titik paling selatan. Sempat bingung untuk memulai dari Ende atau balik lewat Aimere. Karena persiapan yang belum akhirnya memilih lewat Aimere.
Belum terbayang lama perjalanan sekitar 20 jam dalam kapal dan masih dibingungkan soal tiket dan waktu keberangkatan. Pagi itu begitu ramai di Pelabuhan Aimere banyak kendaraan dan pedagang yang memenuhi setiap sudut dermaga. Loket tiket juga penuh sesak dengan antrian orang. Dapatlah dua tiket kelas ekonomi menuju Kupang. Sedikit lega akhinya mendapatkan tiket, tinggal menunggu seorang teman yang jalan kaki dari kos menuju pelabuhan.
Pintu gerbang mulai dibuka, anggota TNI dan Polisi ikut berjaga membantu petugas pelabuhan. Dengan sedikit berdesakan kami memasuki kapal yang ternyata sudah penuh sesak. Tidak hanya manusia dan kendaraan namun juga hewan ternak seperti kambing, babi dan ayam. Sempat mendapat tempat di dek bawah namun tidak terlalu nyaman bau tahi babi dan ayam di sebelah kiri sangat mengganggu. Tidak puas kami masih berusaha mencari tempat di de katas dan ternyata sama saja. Akhirnya kami memilih untuk mengambil tempat di antara dua mobil Menkominfo, sempit memang tetapi jauh dari suara dan aroma hewan ternak.
Karena baru pertama kali menaiki kapal penyeberangan aku begitu penasaran. Menjoba melihat-lihat hingga ke dek atas, di Mushala kami bertemu dengan Guru SM-3T yang bertugas di Sumba Timur. Mereka ingin mengunjungi perbatasan Timor Leste. Mereka yang telah menempuh perjalanan dari Waingapu sampai Aimere sudah mengenal ABK Kapal Inerie II, kita juga diajak mereka ke ruang kemudi kapal dan oleh Nahkoda kapal kami di Ijinkan menuju ke Dek paling atas.
Setelah berusaha istirahat dan berganti-ganti posisi selama hampir 18 jam tiba-tiba terdengar nada suara dari handphone, ternyata kita sudah dekat dengan daratan da nada sinyal selular. Dari jendela terlihat cahaya dan samar-samar mulai terlihat bangunan dan alat berat di Pelabuhan Bolok Kupang. Sampai di Pelabuhan kita mampir dulu di Kupang untuk sahur dan mandi. Angkot dan ojek di sekitar pelabuhan ternyata mahal dan suka minta uang tambahan.
Pagi harinya langsung menuju ke Pelabuhan Tenau untuk mengejar kapal cepat ke Baa (Rote Ndao). Ternyata karena hari Minggu Pelabuhan buka lebih siang, terpaksalah nunggu agak lama di pintu gerbang. Dengan kapal cepat sekitar jam 11 sudah sampai di Baa. Masih tidak percaya bisa sampai di Kabupaten paling selatan di Indonesia.
Gerbang Pelabuhan Baa

Sampai Baa kami mencari kendaraan untuk menuju Ombok namun karena hari Minggu tidak ada bemo yang jalan. Mencari masjid dulu siapa tahu ada yang bisa membantu. Dapat pesan kalau tenyata ada juga anak SM-3T yang sedang di Baa dan tanpa sengaja ketemu di Masjid. Sempat mengobrol sebentar dan ternyata tujuan mereka berbeda.
Desa Oeseli
Setelah mengobrol dengan beberapa orang mereka menyarankan kami untuk menuju ke Desa Oeseli. Di Desa tersebut terdapat sebuah Masjid dan Pos Tentara. Dari desa tersebut kita bisa menuju ke Pulau Dana. Bermodalkan motor pinjaman dan google maps kita langsung menuju Oeseli. Setelah perjalanan sekitar satu jam kita sampai di ujung jalan dan tidak menemukan Masjid ataupun Pos Tentara. Bingung sambil menikmati indahnya Pantai Oeseli.
Pantai Oeseli

Setelah bertanya dengan seorang ibu ternyata masjid lokasinya di tempat tersebut hanya sedikit ke dalam dan tidak terlihat dari jalan. Menyempatkan Shalat Ashar dan beristirahat sambil berharap ada sedikit pencerahan. Memang malu bertanya sesat di jalan, setelah bertanya dengan beberapa warga kami mendapatkan cara untuk ke Pulau Dana dengan bantuan seorang nelayan. Kami juga singgah ke Pos Tentara untuk lapor dan ternyata sambutan bapak-bapak tentara ini begitu baik. Karena beberapa alasan dan juga saran dari pak tentara kami menginap di situ semalam baru ke Pulau Dana paginya.
Masjid Nurul Bahar, Oeseli

Desa Oeseli merupakan perkampungan muslim dengan jumlah warga muslim sekitar 25 kepala keluarga. Menurut penuturan Pak Imam warga muslim di sini merupakan pendatang dari Kerajaan Gowa Talo di Sulawesi. Mereka datang menggunakan kapal pinisi. Konon waktu itu sedang terjadi kekacauan dan perampokan di Gowa Talo hingga beberapa dari mereka melarikan diri dengan kapal pinisi. Desa Oeseli merupakan daerah yang menghasilkan kopra dan hasil laut berupa ikan dan rumput laut. Pantai di desa ini juga begitu indah, pantai pasir putih dengan hisan batu-batu karang. Yang paling berkesan dari tempat ini adalah keramahan penduduk dan ketenangannya. Cukup betah disini jika ada banyak waktu pasti menetap lebih lama.
Keramahan tentara penjaga pulau terluar

Pulau Dana
Pagi itu angin begitu kencang cukup ragu untuk menyeberang. Setelah agak siang dengan kapal nelayan kami menyeberang ke Pulau Dana. Perairan yang langsung terhubung ke laut lepas membuat ombak begitu besar. Menerjang ombak sambil asik memotret burung camar. Entah kenapa waktu berangkat aku hanya diam entah takut dengan ombak atau apa yang jelas ada perasaan tidak enak.
Kapal berhenti di sisi barat Pulau Dana terlihat pantai pasir putih yang begitu menawan. Saat turun dari kapal langsung di sambut oleh tentara. Mereka meminta kami untuk lengsung lapor ke Pos Penjagaan. Para tentara sedang asik menonton siaran langsung Copa Amerika saat laga final. Beberapa diantara mereka keluar menyambut kami sambutan hangat. Mereka begitu penasaran dengan kedatangan kami, beberapa diantara mereka menyangka kami akan melakukan penelitian padahal kita hanya mau berkunjung saja.
Setelah berfoto-foto sejenak kami diantar menggunakan motor viar ke Monumen Jenderal Sudirman. Padang savana yang begitu luas membentang dihadapan kami. Terik matahari sangat kentara namun tidak kami hiraukan. Terkagum melihat sosok Sang jendral yang kisah perjuangannya begitu inspiratif terutama bagi kader Pemuda Muhammadiyah yang selalu menjadikannya panutan dalam keikhlasan berjuang untuk Indonesia maupun Persyarikatan. Keteladanan Jendral Sudirman yang juga beberapa waktu lalu sempat dipentaskan dalam drama di TBY menginspirasiku sejak lama. Sosok pemuda yang berjuang memajukan Indoensia yang juga sempat menjadi Guru di Sekolah Muhammadiyah. Ikut aktif dalam Hizbul Wathan sebelum ikut bergabung dalam PETA.
Kembali dari monument Jenderal sudirman kami kembali ke markas dan bersantai di sumber air. Sumber air ini unik karena seperti oase di tengah gurun dengan banyak pohon yang sejuk. Cukup lama bersantai di sana sambil berbincang dengan  tentara senior yang sudah bertugas di penjuru Indonesia.
keramahan tentara penjaga pulau terluar


Siangnya kami kembali ke Pulau Rote dan melanjutkan perjalan sore harinya ke Ombok sebelum balik ke Kupang pada pagi harinya.

iklan

loading...

Memasak Beras Menjadi Nasi atau Lontong di Alam Bebas

foto: nationalgeographic.co.id Sumber energi selalu kita butuhkan, apalagi saat kita berpetualang di alam bebas. Kebanyakan dari kita se...

Popular Posts