Dalam melakukan suatu kegiatan,
siapapun memerlukan langkah-langkah yang harus dilalui. Demikian juga dengan
pemrograman komputer. Urut-urutan langkah yang disajikan disini tidak bersifat
mutlak artinya tidak harus melakukan dari langkah pertama, kedua dan
selanjutnya. Ada beberapa langkah yang mungkin atau harus diulang sampai
beberapa kali. Berikut ini adalah langkah-langkah yang harus dilakukan dalam
pemrograman komputer :
1.Mendefinisikan masalah
Langkah pertama ini sering kali tidak dilakukan oleh
banyak pemrogram. Begitu mendapat perintah untuk membuat suatu program, mereka
langsung menulis programnya tanpa mendefinisikan masalahnya terlebih dahulu.
2.Menentukan solusi
Setelah masalah didefinisikan dengan jelas, masukan
apa yang diberikan sudah jelas, keluaran apa yang diinginkan sudah jelas,
langkah selanjutnya adalah mencari jalan bagaimana masalah tersebut
diselesaikan. Apabila permasalahan terlalu kompleks, biasanya kita harus
membaginya ke dalam beberapa modul kecil agar lebih mudah diselesaikan.
3.Memilih algoritma
Langkah ini merupakan salah satu langkah penting
dalam pemrograman komputer. Pemilihan algoritama yang salah akan menyebabkan
program tidak dapat berjalan dengan baik.
4.Menguji program
Setelah program selesai ditulis, program tersebut
harus diuji. Pengujian meliputi : keberhasilan kompilasi, keberhasilan output
dan keberhasilan pemecahan kasus.
5.Menulis dokumentasi
Hal ini biasanya dilakukan bersamaan dengan menulis
program. Artinya pada setiap baris program , atau setiap beberapa baris program
dilakukan penulisan komentar. Dokumentasi merupakan hal yang sangat penting.Dokumentasi diperlukan terutama
pada saaat akan melakukan perubahan program atau membaca program yang sudah
ada. Komentar-komentar oendek pada program biasanya sudah cukup. Namun akan
lebih baik jika dituliskan pada file terpisah untuk kemudian dicetak diatas
kertas bilamana perlu.
6.Perawatan
Langkah ini dilakukan setelah program selesai dibuat
dan sudah digunakan oleh pengguna. Hal yang paling sering terjadi disini adalah
munculnya bug yang sebelumnya tidak terdeteksi. Atau mungkin juga pengguna
ingin menambahkan fisilitas baru. Apabila hal seperti ini terjadi harus
dilakukan revisi terhadap program.
Dalam
komunikasi sehari-hari seorang harus berbicara dalam bahasa yang sama dengan
orang tersebut. Hal ini berlaku juga untuk berkomunikasi dengan komputer. Kita
harus menggunakan bahasa yang dimengerti oleh komputer untuk memberikan suatu
instruksi. Pada dasarnya, pemograman adalah kegiatan berkomunikasi/ memerintah
komputer menggunakan bahasa pemograman. Sedangkan bahasa pemograman adalah teknik
komunikasi standar untuk memberi perintah komputer.
Belajarmemprogram adalahbelajartentangstrategipemecahanmasalah,metodologidan sistematikapemecahanmasalahtersebut,kemudianmenuangkannyadalam suatu notasi
yangdisepakati bersama. Pemograman lebihbersifatpemahamanpersoalan,analisis,dan sintesis.
Belajarbahasapemrogramanadalah belajarmemakaisuatubahasa,aturansintaks (tatabahasa),setiap instruksiyangada dantata
cara
pengoperasiankompilatoratau
interpreterbahasayangbersangkutan padamesintertentu.Instruksi harus diberikan kepada komputer agar dapat memecahkan suatu
masalah. Langkah-langkah yang dilakukan untuk memberikan instruksi kepada
komputer untuk memecahkan masalah inilah yang dinamakan pemrograman komputer.
Pemrograman komputer bukanlah hal yang sederhana. Kegiatan ini memerlukan
ketelitian, kesabaran, dan kemauan untuk bekerja dalam jangka waktu yang lama.
Ada 3 tahapan proses dalam pemograman, yaitu:
·Input,
tahapan ini merupakan proses pemasukan data kedalam proses komputer melalui
peralatan input.
·Proses,
tahap ini merupakan proses pengolahan data dari data yang sudah diinput berupa
proses menghitung membandingkan, mengurutkan, mengklasifikasikan, mengendalikan
dan mencari di storage.
·Output,
tahap ini merupakan proses untuk menghasilkan keluaran dari proses pengolahan
data ke peralatan output berupa informasi
Dulu pernah memposting cara membuat WhatsApp error dengan kode tertentu. Cara itu sudah tidak manjur lagi, kalau dulu tinggal kirim langsung error semuanya dan pesan harus dihapus.
Cara yang baru ini menggunakan angka 4 dan 0. Menurut penuturan para korban trik ini membuat smartphone jadi lemot saat membuka pesan, bahkan beberapa langsung mengalami crash.
Lebih jelasnya trik ini sangat mudah. Tinggal copy paste kode ini dan kirim ke targetmu.
4.4.4.4.0.0.0.0.4.0.4.0.4.0.4.0.4.0.4.4.4.4.0.0.0.0.4.0.4.0.4.0.4.0.4.0.4.4.4.4.0.0.0.0.4.0.4.0.4.0.4.0.4.0.4.4.4.4.0.0.0.0.4.0.4.0.4.0.4.0.4.0.4.4.4.4.0.0.0.0.4.0.4.0.4.0.4.0.4.0.4.4.4.4.0.0.0.0.4.0.4.0.4.0.4.0.4.0.4.4.4.4.0.0.0.0.4.0.4.0.4.0.4.0.4.0.4.4.4.4.0.0.0.0.4.0.4.0.4.0.4.0.4.0.4.4.4.4.0.0.0.0.4.0.4.0.4.0.4.0.4.0.4.4.4.4.0.0.0.0.4.0.4.0.4.0.4.0.4.0.4.4.4.4.0.0.0.0.4.0.4.0.4.0.4.0.4.0.4.4.4.4.0.0.0.0.4.0.4.0.4.0.4.0.4.0.4.4.4.4.0.0.0.0.4.0.4.0.4.0.4.0.4.0.4.4.4.4.0.0.0.0.4.0.4.0.4.0.4.0.4.0.4.4.4.4.0.0.0.0.4.0.4.0.4.0.4.0.4.0.4.4.4.4.0.0.0.0.4.0.4.0.4.0.4.0.4.0.4.4.4.4.0.0.0.0.4.0.4.0.4.0.4.0.4.0.4.4.4.4.0.0.0.0.4.0.4.0.4.0.4.0.4.0.4.4.4.4.0.0.0.0.4.0.4.0.4.0.4.0.4.0.4.4.4.4.0.0.0.0.4.0.4.0.4.0.4.0.4.0.4.4.4.4.0.0.0.0.4.0.4.0.4.0.4.0.4.0.4.4.4.4.0.0.0.0.4.0.4.0.4.0.4.0.4.0.4.4.4.4.0.0.0.0.4.0.4.0.4.0.4.0.4.0.4.4.4.4.0.0.0.0.4.0.4.0.4.0.4.0.4.0.4.4.4.4.0.0.0.0.4.0.4.0.4.0.4.0.4.0 Sekian trik ini semoga bermanfaat.
Sabtu jam 5 pagi aku mulai sibuk menyiapkan perjalanan yang
tidak terlalu jauh yaitu ke kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru
tepatnya di Ranu Kumbolo. Pagi itu cuaca cukup bagus tidak ada tanda-tanda akan
hujan dan sepertinya menjadi hari yang baik untuk melakukan aktivitas luar
ruangan. Perjalanan dimulai dari Asrama ke daerah Sawojajar.
Di sawo jajar siswa-siswa itu sudah berkumpul namun masih
ada beberapa yang belum sampai. Canda tawa mereka dalam menyiapkan berbagai
perlengkapan terdengar begitu renyah. Canda tawa mereka ini juga yang selalu
menemani sepanjang perjalanan. Masih ter ingat candaan salah satu dari mereka
yang enyinggung kalau tas temanya tidak muat karena membawa kosmetik.
Selesai mengatur barrang bawaan kami langsung berangkat menuju
Ranu Pane. Yang paling lucu adalah selama perjalana mereka berkali-kali
berhenti dengan alasan yang tidak jelas. Sampai akhirnya benar-benar berhenti
karena beberapa motor tidak kuat nanjak. Dan terpaksa beberapa motor
bolak-balik membantu membawa barang atau orang.
Di Ranu Pane kami langsung menuju ke tempat briefing. Briefing
sebelum mulai pendakian adalah kewajiban jadi harus sabar menunggu giliran. Saat
menunggu giliran siswa ini merasa ada beberapa berkas yang belum ada dan mereka
masih berusaha untuk melengkapinga.
Di bulan ini mulai diberlakukan sistem booking online untuk pendakian
ke Semeru. Sistem ini masih cukup ribet menurutku karena ada beberapa prosedur
yang menurutku kurang jelas sehingga terpaksa bolak-balik untuk melengkapi
administrasi.
Setelah menyelesaikan briefing dan segala persyaratan
administrasi kami memulai pendakian. Tidak ada tantangan yang berarti selama
pendakian. Jalan yang begitu jelas dan tanjakan yang sama sekali tidak ekstrem
membuat perjalanan ini terasa sangat membosankan. Bahkan keramaian yang kalau
dipikir lebih rama daripada jalan depan rumah orang-orang. Dan hanya beberapa
rombongan saja yang cukup akrab mengajak bercanda.
Di Pos 3 hujan mulai turun dan perjalanan terasa sedikit
lebih sulit karena jalan menjadi licin. Sampai di Pos 4 kami berhenti dan
disini mulai terlihat Ranu Kumbolo walau sebagian besar masih tertutup kabut. Lama-kelamaan
kabut menghilang dan hujan pun reda. Sempat terpikir untuk membuat mie instan
untuk menghangatkan badan namun karena sudah cukup cerah akhirnya lanjut ke
camping ground. Siswa-siswa memilih jalur di tepian danau padahal dari
pengamatanku air danau cukup tinggi dan orang-orang memilih jalur atas. Aku hanya
bilang kalau jalur atas sepertinya lebih mudah tetapi mereka lebih berminat
lewat bawah. Akhirnya karena merasa kesulitan mereka memilih jalur atas.
Suasana berkabut kembali menyelimuti pinggiran Ranu Kumbolo.
Sayangnya suasana disana begitu ramai lebih mirip seperti pasar malam. Setelah menemukan
tempat yang dirasa cukup layak untuk mendirikan tenda kami mendirikan tenda dan
membereskan semua perlengkapan-perlengkapan yang kami gunakan.
Setelah langit cukup gelap gelap aku bergegas menuju
tanjakan cinta dengan maksud mengambil foto suasana Ranu Kumbolo saat malam
hari. Kabut tidak setebal saat sore hari dan cukup layak untuk mengambil foto
suasan camping ground saat malam hari. Ku cari beberapa lokasi yang cukup asik
untuk mengambil gambar. Langit yang berawan dan bulan yang cukup terang membuat
langit sebagai background tidak begitu indah. Dan kalau dipikir piker kalau
disitu ada biang lala sudah benar-benar seperti pasar malam, apalagi kalau
ditambah penjual martabak sama gula kapas.
Suara hewan-hewan mulai terdengar tidak terasa sudah pagi. Aku
begitu penasaran dengan sunrise di Ranu Kumbolo namun rasa penasaran itu harus
ditahan karena kabut begitu tebal. Aku mulai berjalan menaiki tanjakan yang
begitu fenomenal itu bukan karena pingin jodoh tetapi dari atas kelihatan kalau
di situ begitu terang karena terkena pancaran cahaya matahari. Mungkin dari
atas itu bisa melihat suasana ranu kumbolo yang ditutup kabut namun bagian atas
cerah. Tebakanku tepat diatas memang cerah dan di bawah Ranu Kombolo
seakan-akan berada dibawah awan. Aku hanya duduk sambil memegang kamera
menikmati suasana pagi dan hangatnya mentari.
Tak terasa sudah satu jam lebih berada di situ dan
sepertinya haru menengok ke Oro-oro Ombo yang ternyata saat itu kering dan
berwarna hitam. Akhirnya aku urung untuk turun ke sana dan meilih kembali ke
Ranu Kombolo. Ternyata di Ranu Kombolo kabut itu sudah menghilang dan suasana
berkabut menjadi begitu cerah. Sayang sekai karena dengan kondisi seperti itu
pasti sulit untuk mengabadikan gambar.
Menurutku Ranu Kumbolo adalah sebuah danau biasa yang tidak
begitu menarik. Mungkin orang-orang tertarik ke situ karena sebuah film yang
begitu popular beberapa tahun lalu. Suasana disitu juga tidak terlalu unik camp
ground dengan tepian danau biasa, jumlah hewan-hewan liar juga tidak teralu
banyak. Bagi yang menyukai tantangan sepertinya lebih cocok kalau ke sana
sambil lari atau paling tidak kebut-kebutan sampai ke kalimati dan menuju
puncaknya. Dan kalau orang yang mencari ketenangan tempat ini sama sekali tidak
direkomendasikan. Lebih baik cari gunung yang lain, seperti Gunung Argopuro
yang menawarkan keindahan danau yang tidak kalah dari Ranu Kombolo bahkan di
sana jauh lebih tenang dan alami.
Tinju adat atau sagi adalah salah satu warisan kebudayaan di
tanah flores. Tidak semua adat di flores mengenal sagi hanya beberapa wilayah
yang mengenal sagi diantaranya adalah di Kabupaten Ngada dan Kabupaten Nagekeo.
Di Kabupaten Ngada hanya ada beberapa tempat dengan tradisi Sagi, sebagian
besar di Kecamatan Soa namun juga ada satu perkampungan di Riung yang mempunyai
tradisi tinju adat yakni di Bekek.
Sagi di setiap tempat mempunyai beberapa perbedaan.
Perbedaan yang paling mencolok adalah cara memukul dan alat pukul yang
digunakan. Sedangkan aturan lainnya tidak terlalu berbeda jauh. Secara umum
permainan ini dibagi menjadi dua kubu barat dan timur setiap petinju (ata sagi)
merupakan perwakilan dari salah satu kubu dan harus didampingi oleh sike.
24 Oktober 2015, waktu pertama kali menonton tinju adat di
Kabupaten Nagekeo, tidak jauh dari SMK Negeri Riung, tepatnya di Desa Nggolonio,
Kecamatan Aesesa. Lokasinya berada di sebuah lapangan yang cukup luas dengan
tribun berupa susunan batu namun jangan berpikir bakal semegah coliseum di
Roma. Walapun punya akses khusus (salah satu panitia adalah Bapak Yere yang
kebetulan juga guru di SMK Negeri Riung) namun karena lokasi terlalu luas
menyulitkan untuk menonton sehingga tidak terlalu seru. Sambil ngobrol ada yang
bilang kalau tinju di Soa jauh lebih menarik bahkan sampai berdarah-darah.
Inilah pertama kali tertarik untuk melihat tinju di soa.
2 Juni 2016, diundang oleh Hasan (guru SM-3T) untuk datang
ke acara tinju adat di Desa Masu, Soa. Kebetulan waktu itu juga ada monitoring
dari UNY jadi sekalian dari Riung naik bus Gemini turun di Masu. Dari pertigaan
berjalan kaki menuju tempat Hasan dan disepanjang jalan mulai terlihat hiruk
pikuk warga berlalu-lalang kebanyakan membawa jerigen berisi minuman moke. Sambil
menunggu Sagi dimulai istirahat dulu di tempat Hasan.
Setelah agak sore menuju ke lapangan tempat sagi
berlangsung. Suasana begitu ramai namun sedikit berbeda dengan lapangan di Desa
Nggolonio, lapangan di Desa Masu tidak terlalu luas sehingga benar-benar penuh
sesak oleh penonton. Saat sampai lokasi begitu sulit untuk mencari posisi
menonton apalagi untuk mengabadikan pertarungan. Dengan menyusup-nyusup akhirnya
memperoleh tempat yang cukup longgar untuk menonton.
Permanan begitu seru, apalagi setiap kali ada yang meukul
penonton bersorak histeris dan kadang juga ada pemain yang berdarah. Semakin sore
pertandingan semakin seru karena yang bertanding adalah pemain yang lebih
senior. Sayang pertandingan terpaksa haru dihentikan karena salah satu pemain
terlepas dari sike hingga terjatuh. Dalam tradisi mereka setiap ada kejadian
tersebut pertandingan harus diakhiri dan malamnya harus diadakan upacara.
Pertandingan Sagi di Soa memang lebih menarik daripada di Desa
Nggolonio selain adu fisik jauh lebih keras juga antusias warga yang lebih
besar.
Rawuk adalah sebuah tempat yang sangat terpencil di
Kabupaten Ngada, Walaupun tidak se sulit Desa Malafai akses menuju tempat ini
tidaklah gampang. Jalur akses dari Riung ditempuh dengan dua cara yaitu dengan
jalan kaki selama sekitar satu jam dan menggunakan kendaraan dengan waktu yang
sama 1 jam. Waktu tempuh ini desebabkan
karena harus memutar lewat jalan Riung-Bajawa. Secara Administrasi Rawuk berada
di Desa Taen Terong 1, Kecamatan Riung, Kabupaten Ngada, NTT dengan penduduk
sekitar 50 KK.
Rawuk merupakan salah satu perkampungan yang unik. Di
perkampungan ini mayoritas adalah muslim padahal letaknya jauh di pegunungan.
Inilah yang membuatnya begitu unik karena biasanya perkampungan muslim berada
di pesisir dan rawuk berada jauh dari laut, walaupun begitu dari tempat ini
kita juga bisa melihat indahnya Taman Wisata Alam Laut 17 Pulau Riung. Singkat
cerita kampung ini adalah bagian dari Kerajaan Islam Riung. Hanya informasi itu
yang diperoleh karena keterbatasan waktu dan akses yang sulit membuatku
kesulitan menggali informasi lebih lanjut. Sedikit kecewa memang.
Di tempat ini ada 2 masjid salah satunya cukup megah untuk
ukuran daerah yang sedikit terisolir. Waktu bulan Ramadhan 1437H kemarin
sempat berkunjung ke tempat ini mengikuti
safari Ramadhan dan semapt sholat jamaah di tempat itu. Sambutan warga begitu
ramah bahkan sempat memberikan suguhan yang cukup nikmat.
Pada kesempatan yang lain entah kenapa Bus Gemini tiba tiba
belok kiri melewati jalanan rabat beton menuju ke arah Rawuk. Dalam hati “gila
nih Om Halim (sopir bus) berani masuk pake kendaraan segede ini padahal kalau
pakai motor aja mikir dulu” memang sih Om Halim itu sopir yang luar biasa
mungkin kalau ikut Reli Dakar bisa menang. Setelah beberapa saat cahaya merah
keemasan menyelip diantara pepohonan. Hingga kemudian benar-benar terlihat
matahari yang bulat kemerahan langsung buru-buru ambil kamera dalam tas namun
tidak sempat terfoto, kamera it uterus kupegang menanti kesempatan emas namun
tidak pernah mendapatkan kesempatan. Hanya beberapa silhouette pepohonan bahkan
di dekat MIS Rawuk pun tidak terambil gambarnya. Jalanan yang begitu sulit
membuat bus bergoncang-gonjang terus.
Memang ada cerita kalau sunset di tempat itu begitu indah dengan
warna merah yang unik bahkan kadang matahari berubah menjadi bulatan merah yang
begitu indah. Mungkin hal ini disebabkan oleh kabut tipis dari padang rumput di
Riung Barat yang memfilter cahaya matahari menjadi berwarna merah menyala. Walapun
tidak bisa mengabadikannya sudah puas bisa melihatnya dengan mata sendiri. Walapun
begitu juga sempat mengabadikan sunset tidak jauh dari Rawuk yang begitu indah.
Nusa Tenggara Timur kalau mendengar nama provinsi ini pasti salah satu yang terlintas dipikiran kalian adalah sebuah tempat yang tandus namun tahukah kalian kalau ada sebuah padang rumput nan hijau dan luas? Kalau kalian sering buka intagram pasti sering melihat padang rumput di Sumba yang memang cukup terkenal yakni bukit wairinding. Namun ada sebuah padang rumput yang jauh lebih luas dan begitu hijau di pulau yang lain yakni di Pulau Flores.
Tempat ini terletak di kecamatan riung barat yang berjarak sekitar 2,5 jam perjalanan dari kota bajawa. Lokasinya jauh dari jalan Bajawa-Riung masih masuk lagi sekitar satu jam dari daerah wangka ke arah maronggela. Ada dua jalur untuk menuju tempat ini yaitu dari Bajawa dan dari Riung. Kalau dari Ende bisa langsung, ada bus damri jurusan Ende-Riung-Maronggela yang tidak setiap hari berangkat. Jadi paling mudah lewat Bajawa. Kalau dari bajawa bisa dengan oto bus, oto travel atau sewa motor lebih banyak pilihannya daripada kalau dari Riung.
Waktu itu akhir Desember tahun 2015 setelah pulang dari Labuan bajo menyempatkan diri untuk mampir ke padang rumput yang katanya sudah mulai hijau setelah beberapa bulan lalu terbakar. Kemarau panjang tahun 2015 berdampak parah disekitar Riung dan Riung Barat hampir semua padang rumput terbakar. Namun hujan di bulan November memberikan harapan dan rumput-rumput mulai tumbuh.
Jalan dari Wangka ke Maronggela sangat sepi hanya ada beberapa orang yang lewat dan menyapa. Tunas-tunas baru yang baru tumbuh memberikan kesejukan yang unik. Anak kerbau yang masih berbulu panjang berlari-lari tidak jauh dari induknya, suara khas babi pun juga terdengar. Awalnya sekitar jalan berupa kebun dan hutan namun setelah melewati Kuwuk vegetasi berubah pepohonan mulai jarang dan hamparan semak belukar mulai terlihat. Oh iya di Kuwuk ada sebuah bukit yang di puncaknya terdapat Salib yang cukup besar, orang sering menyebutnya dengan bukit salib.
2 kilometer dari kuwuk suasana terasa berbeda, seakan kau dibawa ke pulau lain. Suasana daerah ini sama sekali tidak mencerminkan pulau flores, sepanjang mata memandang hanyalah rerumputan. Sapi-sapi berwarna cokelat dan kerbau begitu asik merumput, ada pula kuda yang berlarian. Masihkah aku di tanah Flores? Pertanyaan itu sempat terlintas di kepala. Kemudian ada pengendara motor yang lewat sambil menyapa dengan plat EB membuatku yakin ini masih di Flores.
Sampai di pertigaan ke arah Maronggela dan ke arah Munting ku ambil jalan jelek yang ke arah munting dengan maksud mencari bukit yang agak tinggi untuk melihat pemandangan yang lebih luas. Ada bukit yang tidak terlalu tinggi dan tak jauh dari pertigaan, di dekat rumah bapak Anton. Walaupun tidak begitu tinggi pemandangan dari bukit ini begitu mempesona, hamparan padang rumput seluas ribuan hektar begitu enak dipandang. Waktu itu sepertinya saat terbaik untuk menikmati luasnya padang rumput yang begitu hijau. Rumput sudah sangat hijau namun belum terlalu tinggi sehingga masih mudah untuk menjelajah mencari sudut foto terbaik.
Semoga lain kali bisa kesini di saat yang tepat, sekedar memandangi rumput atau menunggu matahari terbit.